MyDay : Spion Mobil
Foto : Ilustrasi sepion mobil
SURYAWARTA.COM-Pagi itu jalanan sudah ramai meski matahari belum terlalu tinggi. Tepat pukul 06.00 WIB saya keluar rumah. Berangkat kerja dan bersama putri kecilku, kak Izza. Deretan kendaraan bergerak perlahan seperti aliran sungai yang tersendat. Saya mengendarai mobil menuju tempat kerja. Mobil tua, taruna tahun 1999. Di kepala, berbagai rencana dan pekerjaan sudah berputar sejak keluar rumah. Waktu terasa sempit, sementara jalanan seolah tidak mau bersahabat.
Lampu lalu lintas baru saja berubah hijau ketika kendaraan mulai bergerak. Dari kaca depan, saya melihat beberapa sepeda motor berusaha mencari celah di antara mobil-mobil yang berbaris rapat. Pemandangan seperti itu sebenarnya sudah biasa.
Di kursi sebelah, anak saya duduk sambil berkicau, seperti biasa anak usia 5 tahun. Sesekali ia melihat keluar jendela. Wajahnya tenang, seolah hiruk-pikuk jalan raya tidak ada hubungannya dengan dirinya.
“Pak, nanti pulangnya jangan lupa belikan mixu ya...” katanya tiba-tiba.
Saya tersenyum tipis.
“siap kakak, seperti biasa aku memanggilnya.”
Anak saya mengangguk puas.
Kami kembali melaju pelan. Beberapa menit kemudian, sebuah sepeda motor muncul dari belakang dan mencoba menyelip di antara mobil saya dan kendaraan lain di sebelah kiri. Jaraknya sangat sempit. Saya sempat berpikir pengendara itu tidak akan berhasil melewati celah tersebut.
Namun dugaan saya salah.
Motor itu tetap memaksa masuk.
Brak!!!
Terdengar suara benturan kecil.
Spion kiri mobil saya bergetar keras dan terlipat ke luar.
Saya refleks menginjak rem. Jantung saya berdegup lebih cepat. Dalam sekejap, emosi. Pasalnya, spion itu baru saja saya perbaiki. Patah karena terkena bola saat disekolah tempat saya bekerja. Habis 200 ribu setelah diperbaiki. Dan ini bukan kali pertama, sudah 3 kali patah.
“Ya ampun!” seru saya.
Pengendara motor itu tanpa berhenti. Ia tetap tancap gas. Spontan, pedal gas mobil ini saya injak lebih kencang. Dalam hati akan saya kejar.
Saat itu, berbagai pikiran negatif langsung bermunculan. Rasa kesal perlahan berubah menjadi kemarahan.
***
Anak saya pun bilang, pelan pak. Nanti celakaan. Ucap Izza dengan kalimat yang belum fasih mengucap "kecelakaan".
“Kalau marah nanti Bapak sedih. Gak dicatat pahala. Gak boleh kata ustadzah", ucapnya lagi.
Saya diam.
Kecepatan laju mobil pun Saya kurangi. Saya menarik napas panjang. Dan akhirnya, kesabaran itu datang.
" Astaghfirullah", dalam hatiku sembari tetap fokus mengendalikan laju kendaraan.
***
Kak Izza kembali menasehati seperti orang dewasa. Mengeluarkan memori yang pernah ia dengar.
"La tahdzob walakal jannah", sahutnya.
Pagi itu rasanya saya tertampar. Ada ilmu dan nasehat yang saya dengar. Bisa jadi saya marah. Meluapkan kekesalan. Tetapi keteladanan adalah ilmu yang berharga. Saya tidak ingin apa yang terlihat oleh kak Izza menjadi pengalaman yang tercopy.
Dan kami sadar, bahwa memantaskan menjadi seorang bapak memang tidak mudah. Tetapi, karena kak Izza, saya disebut sebagai bapak.
__________________
Oleh : Fury Fariansyah

0 Response to "MyDay : Spion Mobil"
Post a Comment