-->

Feat

Ketika Rumah Hanya Tersisa Teras, Muhammadiyah Hadir Menjadi Penguat

Foto : Muhammadiyah Kota Magelang dan Lazismu saat menyerahkan bantuan kepada korban kebakaran yang dialami oleh Ketua PRM Wates, Pak Oesman

SURYAWARTA.COM-Magelang Tak banyak yang tersisa dari rumah itu. Bara telah padam, asap perlahan menghilang, tetapi jejak amukan api masih begitu nyata. Di antara puing-puing yang menghitam, hanya bagian teras yang masih tampak.

Warga masih berkerumun di sekitar lokasi. Beberapa petugas pemadam kebakaran baru saja menyelesaikan tugasnya. Di tengah suasana itu, rumah yang sebelumnya menjadi tempat pulang dan berkumpul keluarga kini berubah menjadi saksi sebuah musibah.

Rumah tersebut milik Oesman, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Wates, Kota Magelang. Kebakaran terjadi pada Kamis (3/9).

Kabar musibah itu sampai ke kantor Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kota Magelang sekitar pukul 11.00 WIB. Informasi pertama kali diketahui melalui grup WhatsApp Muhammadiyah Kota Magelang.
Bagi amil Lazismu, kabar itu bukan sekadar sebuah informasi. Tanpa menunggu lama, mereka bergerak menuju lokasi untuk memastikan kondisi sekaligus melihat langsung apa yang terjadi.
Sesampainya di lokasi, api memang telah berhasil dipadamkan. Namun, pemandangan yang tersisa membuat suasana terasa berbeda. Rumah nyaris habis dilalap api. Yang tertinggal hanyalah bagian teras, sementara warga dan wartawan masih berada di sekitar lokasi.

Hari itu, musibah datang begitu cepat. Dalam hitungan waktu, tempat yang selama ini menjadi ruang berlindung dan tempat keluarga melepas lelah harus kehilangan hampir seluruh bagiannya.
Namun, di tengah kehilangan, keluarga Usman tidak berjalan sendirian.

Sore harinya, Muhammadiyah dan Lazismu Kota Magelang segera berkoordinasi. Hasil asesmen dari lapangan menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Disepakati, Jumat pagi mereka akan datang bersama-sama untuk menyampaikan empati sekaligus memberikan bantuan.

“Alhamdulillah, amil Lazismu bergerak cepat. Sorenya kita merapat mendengarkan hasil asesmen amil dan memutuskan Jumatnya kita datang. Meskipun pada saat kejadian beberapa warga Muhammadiyah juga sudah ada yang datang,” ujar Ketua Lazismu Kota Magelang, Nugroho Adibroto.

Jumat pagi, rombongan Muhammadiyah dan Lazismu pun kembali mendatangi keluarga Usman. Mereka tidak datang untuk menghapus kesedihan—sebab kehilangan sebuah rumah tentu tidak mudah digantikan—tetapi membawa pesan bahwa ada banyak orang yang ikut merasakan dan peduli.

Lazismu Kota Magelang menyalurkan bantuan sebesar Rp10 juta, sedangkan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Magelang memberikan bantuan Rp5 juta.

Jumlah itu mungkin tidak serta-merta mampu membangun kembali rumah yang telah terbakar. Namun, bantuan tersebut membawa makna lain: sebuah uluran tangan ketika seseorang sedang berada di titik paling membutuhkan.

Empati pun datang dari berbagai penjuru. Nugroho menyebut, kepedulian warga Muhammadiyah dan Aisyiyah cukup besar. Bantuan tidak hanya berasal dari Lazismu dan PDM Kota Magelang, tetapi juga dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Aisyiyah, hingga Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) melalui Lazismu.

“Alhamdulillah, empati warga Muhammadiyah dan Aisyiyah cukup baik. Selain Lazismu dan PDM, di tingkat Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Aisyiyah juga menyampaikan donasi. Termasuk Unimma melalui Lazismu juga menyampaikan,” katanya.

Bagi Salamun, Sekretaris PDM Kota Magelang, kedatangan mereka adalah bentuk kepedulian warga Muhammadiyah kepada Usman dan keluarganya. Ia menyadari bantuan yang diberikan mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan kehilangan yang dialami. Tetapi, ia berharap bantuan itu dapat sedikit meringankan beban keluarga.

“Ujian yang tidak mudah. Rumah adalah tempat kembali, namun Allah pasti punya rencana yang terbaik dan semoga keluarga Pak Usman selalu dikuatkan dalam kesabaran,” ujarnya.

Di lokasi kebakaran itu, rumah mungkin telah kehilangan dinding, atap, dan segala sesuatu yang selama ini mengisinya. Tetapi satu hal justru tumbuh dari puing-puing tersebut adalah kepedulian. Sebab terkadang, ketika seseorang kehilangan tempat untuk pulang, yang paling dibutuhkan bukan hanya kayu, batu bata, atau uang untuk membangun kembali rumah melainkan keyakinan bahwa masih ada tangan-tangan yang bersedia menguatkan.

Dan pagi itu, di antara sisa-sisa rumah yang hangus, pesan itu hadir dari Muhammadiyah dan Lazismu bahwa dalam sebuah musibah, seseorang tidak pernah benar-benar sendirian. 

Kontributor : Fury Fariansyah

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ketika Rumah Hanya Tersisa Teras, Muhammadiyah Hadir Menjadi Penguat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel