Feat

Pandemi Covid-19 : Nasyiatul Aisyiyah Kota Magelang Adakan Diskusi Tentang Cabin fever

Foto : Ns. Sambodo Sriadi Pinilih, M.Kep selaku pembicara dalam dialog online bersama PDNA Kota Magelang
SURYAWARTA.COM-Magelang Ditengah pandemi Covid-19 yang mengaharuskan seseorang untuk stay at home dalam memutus mata rantai penyebaran virus, ada beberapa efek negatif yang dapat mengganggu kenyamanan seseorang sampai timbul sindrom cabin fever. Apa itu? Sebuah sindrom ketidaknyamanan seseorang akibat isolasi berkepanjangan seperti halnya yang terjadi saat ini ditengah pandemi. Demikian kata Eko Kurniasih Pratiwi selaku Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Magelang kepada redaksi suryawarta.com setelah mengadakan kegiatan diskusi online tentang cabin fever, (23/05/20).

Perempuan yang akrab disapa Tiwi ini menambahkan bahwa sindrom cabin fever dapat menimpa semua orang tanpa memandang jenis kelamin dan usia. Artinya, laki-laki atau perempuan mempunyai potensi yang sama. Namun, kali ini PDNA Kota Magelang lebih fokus pada potensi sindrom cabin fever yang yang akan melanda perempuan.
"Kami fokus mengulas tentang potensi sindrom cabin fever pada perempuan karena perempuan punya peran ganda (multitasking) dan dituntut strong", katanya.

Lebih lanjut, perempuan yang menjadi aktifis sejak mahasiswa ini memaparkan bahwa fenomena yang ditangkap oleh PDNA itu akhirya menjadi bahan diskusi dan dilaksanakan diskusi online yang diharapkan dapat memberikan solusi.

"Pemateri dalam diskusi ini adalah Ns. Sambodo Sriadi Pinilih, M.Kep. yang juga menjadi dosen Fak. Ilmu Kesehatan UMMagelang. Semoga nantinya kita mendapat pencerahan dan bisa menditeksi sejak dini. Apakah kita mengidap gejala sindrom cabin fever atau bukan?", Harapnya.

Ns. Sambodo Sriadi Pinilih, M.Kep membenarkan, bahwa cabin fever bisa menimpa siapa saja. Bukan hanya perempuan, laki-laki pun rentan jika tidak bisa beradaptasi dengan keadaan.

"Ada beberapa hal yang harus kita pahami, jangan sampai dalam kondisi pandemi seperti ini kita tak sadar dan menjadi pengidap sindrom cabin fever. Itu bahaya, karena dapat menjadikan konflik sosial yang dimulai dari keluarga", terangnya dalam diskusi online,(22/05/20).

Menurut perempuan yang juga aktif dalam relawan kejiwaan KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia) menjelaskan bahwa agar kita tidak terserang sindrom cabin fever adalah selalu beraktifitas terjadwal, membangun komunikasi dengan orang lain dan juga olahraga yang cukup.

"Tetap fokus, meski work from home (WFH), namun komunikasi dengan orang luar harus dibangun. Tetap olahraga yang cukup dan yang jelas makanan tetap bergizi. Kalau hidup merasa jenuh dan aneh, kita bisa konsultasi dengan psikolog atau psikiater", pesannya.

Kontributor : Fury Fariansyah

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pandemi Covid-19 : Nasyiatul Aisyiyah Kota Magelang Adakan Diskusi Tentang Cabin fever"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel