Syukur Sebagai Kekuatan Batin : Perspektif Islam Dalam Menguatkan Diri
Foto : Ilustrasi
SURYAWARTA.COM - Nasional Tekanan akademik kini menjadi realitas yang dialami banyak mahasiswa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres akademik berdampak signifikan terhadap kesehatan mental, seperti munculnya kecemasan, tekanan emosional, dan menurunnya kesejahteraan psikologis apabila tidak dikelola dengan baik (Sari, 2024).
Beban tugas yang tinggi, kesulitan memahami materi, komunikasi dengan pengajar, serta rasa takut mengecewakan orang tua menjadi sumber stres yang kerap dialami mahasiswa (Wahyuni dkk., 2022).
Media nasional turut menyoroti mahasiswa sebagai kelompok dengan tingkat tekanan mental yang tinggi karena harus menghadapi tuntutan akademik sekaligus beban sosial dan harapan keluarga (Hakim, 2025). Dalam perspektif Konseling Agama Islam, kondisi ini dipahami sebagai melemahnya keseimbangan antara aspek jasmani, psikologis, dan spiritual. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pengurangan tekanan, tetapi juga pada penguatan batin. Salah satu kekuatan batin yang relevan untuk dikaji adalah syukur.
Syukur sering dipahami sebagai ucapan sederhana ketika sesuatu berjalan sesuai harapan. Padahal, syukur merupakan sikap batin yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan psikologis. Penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara rasa syukur dan kesehatan mental mahasiswa (Amaniey & Harahap, 2022).
Mahasiswa yang terbiasa bersyukur juga cenderung memiliki tingkat kebahagiaan dan harapan hidup yang lebih tinggi (Prabowo & Laksmiwati, 2020).
Selain itu, syukur berperan dalam membangun ketahanan emosional. Praktik syukur berkaitan dengan meningkatnya emosi positif dan kesejahteraan psikologis secara umum, serta membantu individu memaknai pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun yang berat secara lebih sehat dan optimis (Abdullah, 2023).
Dengan demikian, syukur bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan sumber kekuatan batin yang membantu individu bertahan dan bangkit menghadapi tekanan hidup.
Dalam Islam, syukur tidak hanya dipahami sebagai ungkapan lisan, tetapi sebagai sikap batin yang membentuk cara pandang terhadap kehidupan. Al-Qur’an menegaskan pentingnya syukur sebagai fondasi dalam menghadapi berbagai kondisi hidup. Allah berfirman: (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7).
Ayat ini menunjukkan bahwa syukur bukan hanya respons atas nikmat, tetapi juga kekuatan yang mendorong keberlanjutan kebaikan dalam hidup. Dalam konteks tekanan akademik, syukur membantu mahasiswa agar tidak terjebak pada perasaan kurang, gagal, atau tertinggal, melainkan mampu melihat nikmat dan potensi yang masih dimiliki.
Pandangan ini diperkuat oleh hadist Nabi Muhammad SAW: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim).
Hadist tersebut menegaskan bahwa syukur merupakan kekuatan psikologis dan spiritual yang membantu seorang muslim tetap stabil secara batin, bahkan ketika menghadapi kesulitan. Syukur memungkinkan individu memaknai tekanan hidup secara lebih sehat, menjaga harapan, dan mempertahankan ketenangan.
Di tengah kehidupan akademik yang penuh tuntutan, banyak mahasiswa tanpa sadar lebih sering berfokus pada hal-hal yang belum tercapai. Nilai yang belum sesuai harapan, tugas yang menumpuk, serta kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain kerap membuat individu melupakan bahwa masih ada banyak hal dalam hidup yang patut disyukuri. Cara seseorang memandang situasi yang dialaminya sangat berpengaruh terhadap kemampuannya bertahan menghadapi tekanan.
Belajar bersyukur bukan berarti menutup mata terhadap masalah atau berhenti berusaha. Syukur membantu individu berpijak lebih realistis pada proses hidup yang sedang dijalani, menerima keterbatasan, serta tetap melangkah tanpa kehilangan harapan. Dengan menyadari apa yang telah dimiliki, beban psikologis akibat rasa kurang dan perasaan tertinggal dapat berkurang.
Dalam konteks konseling agama Islam, refleksi terhadap rasa syukur menjadi bagian penting dalam penguatan diri. Ketika individu mampu menghargai nikmat, termasuk nikmat kecil yang sering terlewatkan, ia akan lebih mudah membangun ketenangan batin, menjaga keseimbangan emosi, dan menemukan makna dalam setiap pengalaman hidup. Pada akhirnya, kekuatan batin tumbuh dari kesadaran untuk menghargai apa yang sudah ada, bukan semata dari apa yang belum tercapai.
Penulis :
Mahasiswa BK Fak. Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Semarang (Yemen Yofiana, Nafisah Umi Hani, Aditya Rangga Saputra, Muslikhah)
Editor : Fury Fariansyah

0 Response to "Syukur Sebagai Kekuatan Batin : Perspektif Islam Dalam Menguatkan Diri"
Post a Comment